Archive for 'PTT'

Duh….kok menghilang?

Iya….saya menghilang cukup lama. Karna laptop si Bapak di jual. Semua karena imbas dari jalan-jalan ke mangga dua libur tahun baru kemaren. Hitech center gak pernah absen dari daftar kemana pun kita pergi, dan hasilnya kali ini: bapak kepingin ganti laptop axio-nya dengan Acer Aspire 4520. Jadilah hampir beberapa minggu kita menunggu si ‘axio’ laku dan penggantinya yang di impor langsung dari jakarta datang ke Tumbang Lahung.

Surat Untuk Teman Kecil ku….

Rencananya saya mau kuliah lagi di Jakarta, itu berarti bukan si Bapak aja yang ditinggal. Fadil dan anak2 yang biasa belajar di rumah juga. Saya cuma kasih surat buat anak-anak. Sebenernya malu ..abis kayak di sinetron aja surat-suratan. Nah ini surat saya buat mereka:

Tumbang Lahung, 14th december 2007 19.53 pm

Dear : My Lovely student

Hallo Ifit, Ida, Diah, Ayu,Anissa….This is my first or meybe the last letter for you all. (duh kok masih pake bahasa inggris Bu? Binggung Ya ? hehehe…). Ibu cuma bisa bilang thanks for all, terima kasih buat semuanya selama ini. Senang bisa ketemu dan berteman dengan semua, sayang ya gak bisa nemenin kalian belajar lagi :( . Seperti yang Ibu bilang “ Ibu harus pulang” karna ibu juga punya cita-cita, sama seperti kalian juga. Sedih rasanya harus pergi padahal ibu sudah mulai dekat sama semua, masih ingat kan klo kita pernah mancok bareng, trus belajar internet sama Bapak di rumah waktu hujan itu? :) .

Ibu kagum dengan semangat belajar kalian, Ibu berdoa semoga ada guru bahasa inggris yang bagus agar kalian semua pintar, cas cis cus ngomong inggrisnya biar bisa menggengam dunia!. Kenapa? karna di luar sana persaingan semakin ketat, dan bahasa inggris salah satu syarat mutlak untuk bisa jadi yang terbaik. Sukses dan berprestasi itu yang Ibu doa’kan pasti!. Jangan pantang menyerah dengan keadaan, klo ada yang mau di tanya bisa ke Om dokter atau sms Ibu. Tidak harus tentang bahasa inggris yang lain juga boleh kok. Oh ya.. terus belajar internet loh, wawasan kalian akan bertambah nanti, biar gak GAPTEK. Klo besok sekolah di kota besar apalagi kuliah di jawa trus gak tau internet rugi bangget, masak dah jamannya 3G gak tau internet?.

By The Way….Ibu juga banyak minta maaf kalau selama ini ada ucapan atau sikap ibu yang salah. Kapan-kapan kalau ibu kangen sama kalian dan Tumbang Lahung Ibu pasti datang tapi dengan catatan: selama Om dokter masih tugas disini. Ida yang selalu tanya “apa itu bu?”, Ifit yang selalu bilang “gak tau Te”, Ayu yang suka binggung klo Ibu minta baca, Anissa yang suka bangget jawab “gak usah belajar aja bu” klo Ibu tanya belajar apa gak?, Diah yang paling sering buka kamus klo Ibu tanya “ ayo apa artinya”. Gak mungkin semua itu Ibu lupa walau kita terpisah ribuan kilo, wah ibu jadi sedih deh ya :( . Waktu kalian baca surat ini Ibu dan Om dokter dalam perjalanan ke banjarmasin atau mungkin lagi terbang ninggalin kalimantan dan ada di atas pulau jawa. Tawa kalian selalu ada di hati Ibu. Jangan sedih ya…jangan nangis juga nanti jelek loh (wah Ibu GR neh! gak ada yang nagis kok! hehehe…). Yang pasti…… Ibu SAYANG kalian semua. Muaaaaach..

Terima Kasih Untuk Semua.
Love You All

Ibu…..

Akhirnya Connect Juga !

Si Bapak pulang dengan wajah sumigrah siang tadi. Usahanya ternyata selama ini gak sia- sia, padahal saya sempet sewot liat suami yang pantang menyerah. Dokter gigi-ku ini memang gak bisa bangget alpa sehari aja dari hubungannya dengan dunia maya, yaa..bisa dibilang juga udah mendarah daging! (serem banget!)

Saya dan Suami sebenarnya sadar dengan keterbatasan yang satu ini. Setelah tau kami akan ada didaerah yang mungkin jauh dari peradaban, kami sudah siap dengan segala konsekuensinya termasuk tidak ada listrik apalagi telpon. Tapi alhamdullillah di Tumbang Lahung sinyal Telkomsel dengan baik kami terima, (jelas saja wong towernya di bangun di bukit dekat rumah kami :) . Keadaan ini jauh lebih baik dibanding dengan beberapa dr/drg PTT teman bapak yang juga tugas di Murung Raya. Di antara mereka ada yang mendapat sinyal pagi saja, tidak ada sinyal sama sekali, bahkan ada juga yang harus ada di puskesmas kalau mau telpon/sms. Padahal masih di satu kabupaten tapi kok pake acara susah banget gitu ya?!

Balik dengan cerita Si Bapak…dengan cuma berbekal Handphone keluaran taun “jebot” Nokia 6610i yang bisa dibiang gak gaul lagi itu, plus jaringan GPRS-nya Telkomsel akhirnya suamiku bisa tersenyum penuh kemenangan! pokoknya ngalah-ngalahin orang yang dapet undian gitu deh. Alhasil mulai besok hari-hari-nya PASTI penuh dengan urusan Ngenet. Tapi….ada yang mulai menggelitik dalam hati, jangan- jangan saya rebutan browsing sama Si Bapak.. :)

Selamatan Pertama Kami..

Saya dan Suami pagi tadi akhirnya bisa selamatan rumah dinas baru yang sudah kami tempati 2 bulan terakhir. Sebenarnya rencana itu sudah dirancang sejak kita berdua “resmi” menjadi penghuni rumah mungil itu. Tapi namanya juga masih baru pindah rumah, rapi-rapi terus bawaannya apalagi ditambah acara jalan-jalan yang selalu ada di waktu senggang alhasil semuanya mundur, tapi gak papa toh?! yang penting acara itu tetap berjalan sesuai rencana (walau beda bulan dan hari). Tidak banyak yang kami undang, hanya tetangga kanan kiri, depan dan belakang yang memang petugas Puskesmas Permata Intan. Beberapa pemuka agama Tumbang Lahung pun hadir. Syukur Alhamdullillah semuanya datang, padahal kami sempat cemas dengan anjuran waktu yang diberikan teman-teman Bapak. Maklum saja selamatnnya jam tujuh pagi.

Lontong dengan sayur pepaya muda campur tempe lengkap dengan sambal goreng ayam kampung plus pudding cokelat jadi menu yang kami pilih, sebenernya seh semua saya yang rancang….. Biasalah si Bapak selalu menyerahkan urusan macam itu sama ibu2 :) syukur dalam hal masak memasak saya tidak kesulitan. Rasanya tidak seperti di ujung kalimantan tengah (pelososk maksudnya), padahal kalau saya ingat pertama kali datang, rasanya sulit sekali bisa mendapatkan pasokan sayur dan teman- temannya itu. Saya jadi ingat Bu Arlin yang pernah bilang dengan logat khasnya: “semua ada ja di sini bu, asal ada ja uangnya!”, harga barang di daerah kami tinggal memang cukup tinggi. Taulah semua jalur distribusi masih menggunakan kapal motor, Kalimantan gitu loh!.

Selamatan tadi tadi pagi simpel dan cukup singkat, padahal katanya ada tradisi yang membiasakan membaca doa khusus untuk pindah rumah yang bisa- bisa memakan waktu cukup panjang. Tapi Syukurlah bukan sesuatu yang dipatenkan, karena semuanya tergantung dari si empu yang punya rumah. Tidak ada berkat ataupun amlop yang harus kami sediakan (ternyata), lagi- lagi tradisi yang beda dengan Jawa.

Semoga saja rumah kami tidak hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan, tapi juga bisa memberikan barokah..Amin.

Lanting…

Sudah lama sebenarnya keinginan itu ada tapi baru sore tadi terpenuhi. Saya main ke lanting dan membuktikan apakah benar saya akan pusing dibuatnya setelah meninggalkan tempat itu. Dulu pertama kali datang dan melihatnya saya cuma bisa menerka-nerka bagaimana rasanya tinggal didalam dan melakukan aktifitas sehari-hari?. Mungkin saya terlalu berlebihan, tapi saya pikir siapun yang melihatnya pasti akan punya banyak pertanyaan salah satunya..yaa seperti yang saya pikirkan juga. Nama tempat itu lanting, kenapa disebut lanting saya juga masih belum tau, dan untuk saat ini bagi saya yang terpenting adalah saya punya cerita tentang lanting dan tau bagaimana kehidupan di lanting sebenarnya.

Secara keseluruhan tempat itu terbuat dari kayu, mulai dari pondasi sampai atap. Memang ada juga yang sudah mulai menggabungkan beberapa material lain tapi tetap saja kayu mendominasi. Melakukan semua dan melewati hidup di atasnya bagi saya yang belum pernah sama sekali adalah mustahil!. Bagaimana tidak, bila air sedang pasang atau ada kapal motor/speed yang lewat maka kitapun akan terombang-ambing dibuatnya.Yang parahnya lagi harus melakukan MCK jadi satu dengan air sungai yang mengalir! Wah…..gak bisa bangget deh!.

Jalan turun ke Lanting

Saya sedang turun ke lanting.

Tadi sore saya dan suami yang memang sudah niat foto-foto di pinggirang sungai Barito mengunjungi tempat tinggal salah satu pegawai Puskesmas, namanya Pak Mudransyah. Beliau memang satu-satunya pegawai Puskesmas yang sampai saat ini masih tingal di lanting. Jalan menuju lanting yang ada di sepanjang sungai harus saya dan suami lewati dengan menggunakan gelondong kayu dan beberapa anak tangga yang memang tersedia, tidak adanya pegangan seperti layaknya tangga biasanya membuat saya ketar ketir juga, maklum licin dan curam.

Suamiku Di Lanting

Tampak suamiku sedang bermain air di lanting Pak Mudransyah.

Kami di sambut Pak Mudransyah dan istri, beberapa tetangga sekitar tersenyum melihat kami (mungkin heran, kok ada yang begitu antusias untuk datang dan foto-foto di lanting). Akhirnya saya bisa tau juga bagaimana rasanya ada didalam. Tidak ada yang berbeda seperti rumah kalimantan lainnya yang memang dibangun dari kayu, hanya saja rumah Pak Umud( biasa disapa ) berpondasinkan aliran sungai Barito. Saya bahkan sempat bergumam dalam hati “wah dari luar boleh biasa2 saja atau bisa disebut layak gak layak, tapi kalo mau tanya isi gak usah di tanya deh” bagaimana tidak, mulai dari hamparan karpet, tv 21 inch, sampai kompor gas pun ada!. Tapi bagi saya yang lebih hebat adalah ternyata Pak Umud, istri dan kedua anaknya sudah hidup selama 20 tahun di lanting!.

Hidup di lanting bagi mereka adalah kemudahan, bagaimana tidak Sungai Barito seperti jalan raya, yang memberikan kemudahan akses. Tidak hanya itu… sulitnya mendapatkan air bisa diatasi dengan aliran sungai barito, belum lagi ikan yang mudah didapat karna mereka bisa memancing, menjaring, ataupun memelihara ikan-ikan tersebut dalam karamba langsung dari atas lanting. Selain bisa mencukupi kebutuhan lauk pauk sehari-hari, rupanya juga bisa dijadikan penghasilan tambahan dengan cara menjual hasil tangkapan mereka ke penduduk sekitar.

Lanting…Nafas kehidupan sepanjang Barito.