Guru Honorer
Tiga bulan sudah saya berhenti mengajar sebagai guru honor di daerah terpencil kec. Permata Intan kab. Murung raya. Hati saya gelisah…berkali-kali sudah saya coba bertahan demi anak-anak, tapi entah akhirnya saya menyerah.
Saya bahagia menjalani hari berbagi ilmu dan pengalaman dengan anak didik saya, dapat saya lihat antusias mereka bertanya tentang penddikan dan sesuatu yang mereka tidak tau di pulau Jawa. Saya menganggap mereka adik2 saya yang butuh informasi dan dukungan. Mereka sering main ke rumah sekedar mampir pulang sekolah atau memang niat datang karna ada sesuatu yang ingin di tanyakan. Dari mereka saya banyak tau bagaimana keadaan sekolah, kesulitan mereka, kehidupan mereka sebagai pelajar.
SMA tempat saya mengajar memang tidak bisa di samakan dengan sekolah-sekolah di daerah lain, apalagi seperti sekolah-sekolah di kota besar. “Di sini kampung Bu..” selalu itu jawaban mereka. Menurut saya harusnya tidak ada beda, tapi lagi-lagi mereka ingin saya memaklumi keadaan mereka yang saya pikir there is no exuse for the rule. Saya sudah tidak heran seperti awal saya datang di kampung ini; jam 7.30-8.00 pagi masih ada pelajar yang baru mau berangkat sekolah, pakai seragam yang tidak seragam, sekolah tapi tidak belajar karna sering absen-nya para guru tetap apalagi guru honorer..!
Idealis..? mungkin saja. Bagi saya tidak fear kalau ada anak yang tidak pernah masuk sekolah kecuali saat ujian, bisa mendapatkan nilai yang sama (nilai baik) dengan anak yang rajin sekolah. dan bisa naik kelas tanpa ada peringatan sama sekali. Merasa tidak benar saat nilai rapot yang saya serahkan ke wali kelas di ganti dengan seenaknya tanpa ada pertanyaan dan penjelasan pada saya sebagai guru bidang. Ada rasa kecewa setelah tau pemimpin sekolah dengan gamblang bicara di depan kelas pada siswa bahwa selama dia pemimpin tidak perlu ada yang khawatir dengan kelulusan. Sedih…setelah tau ada pihak pihak tertentu yang mengatur ’sesuatu’ pada hasil ujian anak-anak.
Dengan berat hati saya berhenti…

Recent Comments