Lanting…

Sudah lama sebenarnya keinginan itu ada tapi baru sore tadi terpenuhi. Saya main ke lanting dan membuktikan apakah benar saya akan pusing dibuatnya setelah meninggalkan tempat itu. Dulu pertama kali datang dan melihatnya saya cuma bisa menerka-nerka bagaimana rasanya tinggal didalam dan melakukan aktifitas sehari-hari?. Mungkin saya terlalu berlebihan, tapi saya pikir siapun yang melihatnya pasti akan punya banyak pertanyaan salah satunya..yaa seperti yang saya pikirkan juga. Nama tempat itu lanting, kenapa disebut lanting saya juga masih belum tau, dan untuk saat ini bagi saya yang terpenting adalah saya punya cerita tentang lanting dan tau bagaimana kehidupan di lanting sebenarnya.

Secara keseluruhan tempat itu terbuat dari kayu, mulai dari pondasi sampai atap. Memang ada juga yang sudah mulai menggabungkan beberapa material lain tapi tetap saja kayu mendominasi. Melakukan semua dan melewati hidup di atasnya bagi saya yang belum pernah sama sekali adalah mustahil!. Bagaimana tidak, bila air sedang pasang atau ada kapal motor/speed yang lewat maka kitapun akan terombang-ambing dibuatnya.Yang parahnya lagi harus melakukan MCK jadi satu dengan air sungai yang mengalir! Wah…..gak bisa bangget deh!.

Jalan turun ke Lanting

Saya sedang turun ke lanting.

Tadi sore saya dan suami yang memang sudah niat foto-foto di pinggirang sungai Barito mengunjungi tempat tinggal salah satu pegawai Puskesmas, namanya Pak Mudransyah. Beliau memang satu-satunya pegawai Puskesmas yang sampai saat ini masih tingal di lanting. Jalan menuju lanting yang ada di sepanjang sungai harus saya dan suami lewati dengan menggunakan gelondong kayu dan beberapa anak tangga yang memang tersedia, tidak adanya pegangan seperti layaknya tangga biasanya membuat saya ketar ketir juga, maklum licin dan curam.

Suamiku Di Lanting

Tampak suamiku sedang bermain air di lanting Pak Mudransyah.

Kami di sambut Pak Mudransyah dan istri, beberapa tetangga sekitar tersenyum melihat kami (mungkin heran, kok ada yang begitu antusias untuk datang dan foto-foto di lanting). Akhirnya saya bisa tau juga bagaimana rasanya ada didalam. Tidak ada yang berbeda seperti rumah kalimantan lainnya yang memang dibangun dari kayu, hanya saja rumah Pak Umud( biasa disapa ) berpondasinkan aliran sungai Barito. Saya bahkan sempat bergumam dalam hati “wah dari luar boleh biasa2 saja atau bisa disebut layak gak layak, tapi kalo mau tanya isi gak usah di tanya deh” bagaimana tidak, mulai dari hamparan karpet, tv 21 inch, sampai kompor gas pun ada!. Tapi bagi saya yang lebih hebat adalah ternyata Pak Umud, istri dan kedua anaknya sudah hidup selama 20 tahun di lanting!.

Hidup di lanting bagi mereka adalah kemudahan, bagaimana tidak Sungai Barito seperti jalan raya, yang memberikan kemudahan akses. Tidak hanya itu… sulitnya mendapatkan air bisa diatasi dengan aliran sungai barito, belum lagi ikan yang mudah didapat karna mereka bisa memancing, menjaring, ataupun memelihara ikan-ikan tersebut dalam karamba langsung dari atas lanting. Selain bisa mencukupi kebutuhan lauk pauk sehari-hari, rupanya juga bisa dijadikan penghasilan tambahan dengan cara menjual hasil tangkapan mereka ke penduduk sekitar.

Lanting…Nafas kehidupan sepanjang Barito.

Leave a Comment