Sholat ied kali ini terasa berbeda…bukan cuma karena kami melewatinya di Kalimantan, daerah yang baru saja saya dan suami datangi enam minggu yang lalu. Gema takbir yang biasa bertalu-talu, tidak kami jumpai kala hari itu tiba. Pagi tadi kami berangkat mencari masjid terdekat, si Bapak sengaja meminta saya untuk menyimpan sajadah dan mukena dalam tas hitam, suamiku sedikit khawatir…maklum Muslim di Kabupaten kami melewati hari raya adalah minoritas. Murung Raya adalah daerah pemekaran yang berumur lima tahun dan masih melakukan pembangunan infrastruktur (itupun di kota kab.saja alias di Puruk Cahu). Walaupun jalan utama sudah di aspal tapi secara keseluruhan pembangunan fisik masih terlihat di sana- sini. Ini kali kedua kami datang di Puruk Cahu (suami tugas di kec. Permata Intan). Pertama waktu mengurus SPMT (surat pernyataan melaksanakan tugas) sekaligus pembagian penempatan wilayah tugas, yang kedua ya..untuk melewati Idul Fitri kali ini.
Berjalan kaki adalah pilihan tepat untuk menemukan Masjid atau langgar. Sepinya jalan dan tidak ada muslim yang terlihat membuat hati saya nelongso, bayangan akan suasana di Jawa pun silih berganti hadir. Umat muslim yang berbondong-bondong, ketupat plus sambal goreng hati kesukaan saya, kue-kue kering yang ada di rumah, keluarga besar yang selalu kumpul, rupanya tidak ada lebaran tahun ini. Siapapun pasti akan sedih….tapi takbir itu tetap berkumandang meskipun dalam hati saja. Di Puruk Cahu kami tinggal di rumah dinas Dokter Spesialis, tepat di depan Rumah Sakit. Rumah itu juga tempat kami menginap dulu. Bangunan fisik yang sudah tidak menggunakan kayu, di tambah fasilitas yang komplit membuat kami sedikit terupa akan “pelosok kalimantan”. Listrik yang hidup 24 jam pun bisa kami nikmati, ah…rasanya seperti di jawa!.
Akhirnya kami sampai disebuah langgar yang masih belum selesai pembangunannya. Miris hati ini saat tau ternyata yang ikut sholat Ied pagi tadi tidak lebih dari 35 orang! tapi apa mau di kata memang begitu kenyataanya. Toh sholat Ied pagi tadi berjalan lancar, saat mau pulang kami di ajak untuk singgah di rumah salah satu penduduk. Rupanya memang begitulah kebiasan muslim di sekitar langgar. Mereka berkumpul bersama untuk menikmati makanan yang disediakan, dan pagi tadi soto banjar lengkap dengan bakul-bakul nasi, kecap asin dan sambal gorang disajikan. Kearabannya sejenak melupakan ingatan saya akan suasana lebaran di Jawa. Dalam kesederhanaan pun kehangatan bisa saya dan suami rasakan.
Pulang dari rumah tersebut (sayang kami tidak sempat menanyakan nama pemilik rumah) ternyata kami masih di ajak untuk mampir(lagi) ke rumah seberang. Seorang Ibu bilang “sekarang ke rumah saya, sudah ada lontong sayur di rumah”. Saya cuma bisa mesam-mesem dan berkata “Oh iya”. Si Bapak sedikit bingung mamir lagi bener ta? buktinya suami pun di ajak oleh Bapak-bapak yang lain. Lontong sayur dengan ikan bumbu bali menu kedua pagi tadi benar-benar rezeki.Bagaimana tidak di rumah cuma tersedia lauk kalengan yang kami beli 2 hari yang lalu di pasar bawah saat saya belanja untuk kebutuhan selama satu minggu (dengan menumpang ojek Rp 20.000). Setelah Bepamitan dengan senyum kami kembali menyusuri jalan yang masih belum banyak dilewati kendaraan untuk kembali pulang ke rumah.
Semoga tahun depan kami bisa melewati Hari Raya bersama buah hati yang kami nanti, keluarga di Jakarta dan Probolinggo, Amin.
Recent Comments