Tujuh september 2007… hari itu saya dan suami meninggalkan Palangkaraya menuju Muara Teweh. DAS (dirgantara air service) kami pilih sebagai alat transportasi karna waktu tempuh yang cukup singkat, sekitar 50 menit. Jelas jauh lebih nyaman dibandingkan jika kami menggunakan bis antar kota yang memakan waktu, tenaga, dan uji kesabaran! maklum untuk bisa sampai ke Muara Teweh harus melewati rute Palangkaraya- banjarmasin – Muara Teweh yang semuanya harus kami tempuh kurang lebih 18 jam!. Membayangkannya saja sudah tidak mau apalagi benar- benar memilihnya sebagai cara untuk bisa sampai tujuan. Apalagi perjalanan kami masih harus dilanjutkan sekitar 4 jam lewat sungai Barito untuk sampai di kabupaten Murung Raya.
Saya, 3 drg ( termasuk suami ) dan 2 dr.umum akhirnya tiba di Muara Teweh, lagi-lagi gerimis menyambut kedatangan kami pagi itu. Tidak tau apa yang dipikirkan mereka yang pasti saya merasa semakin kecil dan pelosok saja daerah yang kami datangi. Di tengah rintik hujan makin jelas terlihat kecemasan itu, maklum kami hanya mengantongi saran untuk memilih speed boot sebagai transportasi kami selanjutnya untuk bisa sampai di Puruk Cahu ( ibu kota Kab.Murung Raya ). Dimana pelabuhan itu ada dan bagaimana kami bisa sampai di sana tidak ada satupun yang tau, apalagi tidak kami lihat transportasi umum yang lewat, yang ada cuma ojek motor dan memang cuma itu satu-satunya yang bisa mengantar kami sampai ke bawah, itupun harus secara bargantian.
Dengan Rp 25.000/ orang sampailah kami di tempat yang disebut pelabuhan tapi saya pikir lebih pantas kalau disebut pangkalan. Bersusah payah saya dan suami harus menuruni gelondongan- gelondongan kayu yang di susun sedemikian rupa agar menyerupai anak tangga demi untuk bisa sampai ke loket speed.
Speed boot itu berpenumpang kurang lebih 30 orang. Dengan mengucap Bismillahirrohmaanirrohiim…di mulailah perjalanan saya. Sungai itu cukup besar hutan lebatpun selalu setia mengiringi, seakan tak ingin hilang dari depan mata, jujur saya tidak tau apakah senang atau takut yang di rasa saat itu, yang jelas saya hanya ingin secepatnya bisa sampai. tidak terasa separuh perjalanan sudah dilewati, saya dan penumpang yang lain singgah di sebuah tempat makan di atas air ( saya lupa namanya apa ). Saat turun dari speed boot, saya bertemu lagi dengan bongkahan kayu yang kali ini cukup besar, bahkan lebih besar dari yang pernah saya lihat dan injak sejak di Muara Teweh. Wah….! rupanya saya harus mulai terbiasa dan lincah berpijak dari kayu satu ke kayu yang lain selama di Kalimantan.
Rumah makan itu tidak bisa di bilang sederhana, semuanya tampak seperti layaknya rumah makan di Jawa. Beberapa meja bundar lengkap dengan kursi empuk merah dan plastik tertata rapi, aneka minuman dan makanan ringan pun tersedia. Yang membedakan hanya elemen rumah yang keseluruhannya terbuat dari kayu.
Recent Comments